Berikan aku sedikit jawaban
Agar pasti adamu atau tidak
Karena aku tak mampu tuk selalu berhadap
Dengan waktu yang terus menggelisahkan ku
Cukup! Kau buat aku bingung!!
“Sebagai seorang perempuan, seharusnya engkau menjagaku. Kenapa malah sebaliknya, engkau akan menghilang?”
“ aku tak kan menghilang sayang... aku hanya butuh waktu untuk mendapat pekerjaan yang lebih menjamin akan kehidupan keluarga kita nanti. Untuk membiayai sekolah Raffi juga Ega. Dua atau tiga tahun aku pasti kembali”.
“ pekerjaan mas yang disini sudah cukup kok mas kalau hanya untuk membiayai mereka!”
“ Dek, marilah kau mengerti. Semakin hari kebutuhan kita akan bertambah, dan kita tidak bisa selalu bergantung pada pekerjaan mas yang hanya jadi sopir taxi ini...”
“ yasudah, itu terserah padamu. Aku tak memaksamu untuk ada disini bersama keluarga!”
“ kalau begitu, kenapa kau masih terlihat marah sayang...?”
“ mas, anak-anak butuh kamu. Jadi...”
“ ok! Baiklah. Aku hanya setahun disana. Gimana?”
Terpaksa aku mengangguk secara perlahan, sesungguhnya aku tak pernah rela atas keputusannya untuk pergi. Tapi mau bagaimana lagi, alasan ku tak mampu membuat ia tetap bertahan disini.
“ terimakasih sayang,... aku pasti selalu merindukanmu dan anak-anak. Dan mas janji akan datang tepat waktu. Mas berangkat, jaga dirimu baik-baik. Cintaku untukmu”ucapnya, lalu ia pun pergi meninggalkan segala yang ada.
Itulah percakapan ku denga mas Ridwan sembilan bulan lalu... percakapan orang tua yang mempermasalahkan hidup anak-anaknya di masa depan nanti. Sungguh aku merindukan Mas Ridwan.
ΩΩΩ
Aku hanyalah ibu rumah tangga yang kebetulan di karuniai dua orang anak yang harus ku pertaruhkan masa depan mereka. Karena itu amanah, dan aku harus bertanggung jawab atas semua itu.
Raffi, anak lelaki pertamaku yang sudah duduk di bangku VII smp, dan Ega yang masih ada di bangku enam SD. Mereka yang begitu patuh membuat aku tak susah jalani hidup meski tanpa hadirnya mas Ridwan disisiku untuk mereka.
Seakan hari aku jalani tanpa rasa khawatir pada keadaan kami yang hidup tanpa seorang imam keluarga. Terikasih Allah, karena Engkau telah menjadikan indah hari-hariku dengan anak-anak. Indahkan lah pula hari-hari mas Ridwan disana, aku tidak ingin dia melarat karena mempertaruhkan hidup kami ini.
ΩΩΩ
Sekian lama dari kepergian mas Ridwan keluar kota, membuat anak-anak bertanya-tanya karena ketidak datangannya yang sudah tiba pada waktunya.
“ ya, mama juga ingat itu Raffi. Entah mama juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini hand phone bapak mu tidak aktiv. Atau mungkin bapak mu masih belum bisa di ganggu karena kesibukannya” jelasku pada Raffi
“ setidaknya bapak ngasih kabar ma ke kita. Agar kita tahu bagaimana keadaannya di sana. Atau mungkin bapak memang sudah melupakan kita?” aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Raffi.
“ hush... tidak boleh ngomong begitu! Bapak sangat menyayangi kita semua, jadi tidak mungkin dia mengabaikan adanya kita. Percayalah Raf, jangan berpikiran kayak gitu lagi ya...biar nanti mama cari kabar ke tetangga yang lain, yang juga kerja ditemapat bapakmu”
“ bukan gitu ma, Raffi hanya tidak mau aja mama kelamaan nunggu hadirnya bapak. Yaudah kalau gitu semoga mama cepat dapat kabar tentang bapak” tegasnya. Lalu ia pergi dari hadapanku.
Aku berpikir sejenak, ku rasa apa yang dikatakan Raffi ada benarnya juga. Tapi tidaklah, mas Ridwan tidak kan setega itu padaku. Karena aku tahu, kami saling mencintai. Dan itupun sudah kudengar sendii dari mas Ridwan.
ΩΩΩ
Aku akan mencoba datangi Rendi, teman mas Ridwan yang baru saja datang dari luar kota tempat ia bekerja. “assalmulikum…” suara dari luar pintu. “waalaikum salam warahmah” jawabku smbil membuka pintu itu. Rendi. Ternyata dialah pemilik suara diluar pintu itu. “kebetulan Ren, aku memang berencana untuk ke runahmu. Memang ada apa Ren kok jadi kamu yang kesini?”. “aku hanya ingin menyampaikan pesan Ridwan kepadamu”. “kebetulan, aku mau ke rumah mu untuk menanyakan kapan mas Ridwan akan pulang Ren…” ada yang terlihat beda dari sikap Rendi melihat ku saat itu, atau adakah sesuatu yng dirahasiakan dariku tentang mas Ridwan?”. “ Ratna,.. aku tidak tahu soal itu. Aku hanya disuruh untuk sampikan bungkusan ini kepadamu. Yasudah kalau begitu aku pulang dulu. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan”. “terimakasih Ren..” setelah kuterima bungkusan titipan dari mas Ridwan, aku pun masuk rumah dan tak lupa ku tutup pintu. Aku coba duduk di ruang tamu sambil membuka bungkusan dari mas Ridwan. Hahm… mas Ridwn sangat menyayangi kami. Buktinya meski ia hampir pulang masih saja menitip oleh-oleh pada kami.
ΩΩΩ
Inikah alasan dia tak ingin pulang tepat waktunya
Tak mengabariku yang telah lama berselimut sepi tanpanya?
Allah… aku tidak percaya jika hal ini benar-benar terjadi pada keluarga kami. Karena kami tahu kami saling percaya dan mencintai… sungguh kurasa sangat mustahil jika mas Ridwan setega ini padaku, memaduku. Apa salahku hingga membuat dia berpaling dari apa yang sudah Ia punya, mungkinkah karena adaku yang serba sederhana ini, membuat ia lebih memilih untuk berpaling pada keadaan perempuan yang lebih sempurna?
Air mataku mengalir deras setelah suratnya ku baca berulang kali. Tetapi, secepatnya aku hapus air mataku agar anak-anak tidak mengetahui semua kejadian ini. Aku hanya tak ingin mereka merasakan sakit yang telah aku rasa ini. Cukup aku yang menanggung, tersiksa dengan sendiriku…
Hmm… sungguh maafkan aku Allah jika apa yang terjadi ini hanyalah merupakan kesalahan ku yang tak mampu memberikan yang tebaik pada mas Ridwan. Tapi cukup Allah, kurasa aku sudah benar-benar berusaha untuk menjadi perempuan yang sempurna bagi dia, suamiku.
“ ma…” suara Raffi terdengar dari kamar sebelah. “gimana ma, udah dapat kabar tentang keadaan bapak?”. Se cepatnya aku simpan surat dari mas Ridwan itu. “ udah syang… mama dapat kabar dari istrinya om Rendi, kalau bapakmu baik-baik saja. Dia tidak dapat pulang cepat karena banyak kerjaan, eman-eman Raf…” ku palingkan alasan yang sebenarnya dari Raffi. “tapi kenapa mama seperti habis nangis?”Tanya Raffi sambil menatap wajah ku yang sudah memerah ini. “ mama hanya menghawatirkan keadaan bapak sayang, merindukan hadirnya dengan kita di sini. Cuma itu kok ”. “mama yakin tidak kenapa –napa?” Raffi memelukku, “ma, Raffi selalu ada kok untuk mama, jadi mama tidak usah merasa sendiri. Apalagi kan ada adek yang selalu meramaikan suasna, jadi mama jangan sedih lagi ya…” aku tatap wajah Raffi yang masih terlihat polos itu. Ada kesedihan yang tersirat disana. “yaudah, mama istirhat dulu, Raffi masih mau ngelanjutin tugas untuk besok ya ma,..” lalu dia pun beranjak dari hadapanku. “ ma,…” tak lama dari kepergian Raffi, Ega datang menghampiriku. “ada apa sayang?” aku memeluknya dengan hangat kasih ini. Lagi-lagi aku menangis dipelukannya, sungguh aku terjerat dalam paksa rindu ini… hah, aku rapuh! “ lho… kok mama nangis?” aku cepat hapus air mataku. Sungguh aku tak ada maksud untuk enjadi ibu yang lemah bagi mereka. Karena dengan menangis akan membuat mereka pun rapuh. “mama hanya ingin menangis sayang, tidak ada keinginan lain kok. Yaudah sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar, istirahat sayang. Mama juga akan istirahat”. Ega pun menuruti pintaku, aku pun memilih untuk beranjak untuk rebahkan tubuh di kamar. Meski pada kenyataannya aku tak kan mudah bisa tutup mata ini.
ΩΩΩ
Sebulan setelah aku coba hidup lagi dengan hatiku yang dulu, mencoba kembali pada bahagiaku yang damaikan banyak orang. Nyatanya gagal total! Ironisnya semakin parah, aku lebih suka marah-marah pada anak-anak, bahkan mereka sering nangis karena merasa tersakiti dengan kata-kataku yang menurut mereka sudah keterlaluan. Aku jadi bingung dengan apa yang seharusnya aku bersikap sekarang.
Allah, tolong tunjukkan padaku jalan Mu, agar aku bisa kembali menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Karena aku mencintai mereka Allah,... aku tak ingin dengan kejadian kurang ajar ini ngebuat mereka frustasi. Karena kekanakan mereka yang masih membuat aku ragu tuk katakan hal yang sebenarnya terjadi ini.
Aku lebih memilih diam untuk menanggap setiap tanya yang kan terlontar dari anak-anakku nanti, tak lain tanya tentang bapaknya yang sudah memalingkan hati dari kami.
Cukuplah ini sebagai ujian bagi seorang aku ynag masih kurang paham menghidupi keluarga tanpa seorang imam. Aku yakin dibalik dukaku ini, ada bahagia yang melambaikan tangan. Dan aku pasti akan merasakan itu, meski masih aku tak tahu kapan akan kurasakan itu, bahkan mungkin sesampainya ajalku nanti. Agar sekalian luka ini aku bawa kubur saja dengan jasad dan bathinku yang telah terkoyakkan oleh perasaan yang terlalu sempurna aku punya.
Perempuan yang seharusnya dijaga, nyatanya dengan gampag dilontarkan dijalan yang meng-ambigukan hati,..
Mencoba aku buktikan pada setiap yang punya hati
Bahwa masih ada perempuan yang ingin menguatkan diri
meski hati dan perasan yang telah dirapukkan oleh lelaki tak berhati
karena tak semua perempuan mengalah dengan sendiri tanpa suruh hati
Allah, izinkan aku untuk menjadi perempuan yang kuat. Perempuan yang mampu menyongsong masa depan anak-anakku meski tanpa seorang lelaki yang dulu mengaku mencintaiku. Suamiku.
Izinkan aku tetap dalam jalan kesabaran dari-Mu ini Allah, agar aku tetap mampu menyatukan hati untuk mencintai-Mu. Mencintai Engkau yang senantiasa akan kembalikan hati suamiku pada hati kami lagi, bukan niatku untuk menagih Engkau agar di Engkau kembalikan ke pelukannku. Tapi satu hal, demi ank-anak agar tidak selalu mempertanyakn adanya. Karena sampai kapanpun mereka akan tetap menunggu bapaknya yang sudah terlanjur mereka cintai. Meski nyatanya sakit adalah sebagai makanan setiap hari-hariku. Aku akan siap menerima resiko itu, demi yang tercinta, Raffi dan Ega. Amanah yang Engkau titip padaku dan pada suamiku, beberapa tahun setelah cinta kami kau Ridlai ini.
Dn aku putuskan untuk tetap bertahan di sini, di keluarga Ridwa Gunawan. Sampai kpanpun itu, kecuali jika nanti mas Ridwan datang dan mengusiku. Maka aku akan pergi, tapi ku tidak yakin dengan itu. Karena sampai saat ini, hatiku berkata mas Ridwan tetap mencintaiku, juga pada anak-anak.
Aku menungumu, mas Ridwan. Suamiku... cepatlah kasih kabar dengan hatimu yang mencintaiku, dan kembalilah...
* green_library collection
Selasa, 28 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar