Santri selalu identik dengan manusia yang hidup di lingkungan pesantren. Sedangkan pesantren adalah dunia yang digeluti oleh para kyai dan santri yang didalamnya dilaksanakan sistem pendidikan sesuai dengan pola pola kepesantrenan yang mereka miliki. Dengan demikian istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai perwujudan eksistensi peserta didik yang selalu rindu pada ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendidik (baca:kiai). Oleh sebab itu pendidikan dipesantren selalu dilibatkan dalam pembelajaran yang bersifat sosial. Karena pada ujung ujungnya mereka akan menjadi panutan masyarakat ketika terjun ke masyarakat.
Tak dapat dipungkiri pula hal-hal yang mereka pelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat nantinya, dalam artian agak cenderung mengikuti perkembangan zaman meski terkadang harus menanamkan pola-pola pembelajaran yang klasik.
Dari situlah santri belajar harus mengikuti zaman. apalagi dizaman yang serba canggih seperti sekarang ini lebih didominasi oleh ilmu pengetahuan teknologi, oleh sebab itu sudah menjadi keniscayaan jika santri dituntut untuk mahir teknologi demi kelangsungan sistem pembelajaran dan menambah wawasan pengetahuan santri.
Pesantren yang seakan-akan sudah didominasi olah ilmu keagamaan, sepertinya belum siap untuk bersentuhan dengan barang yang berbau teknologi. Namun pada hakikatnya mereka sangat membutuhkan. oleh karena itu , ketika santri berteknologi,Why not?
Sebenarnya teknologi apabila dilihat dengan sebelah mata, maka cenderung berdampak negatif dengan segala fungsinya. Selama ini kita telah mendengar bahasa kiasan bahwa teeknologi ibarat ”dua mata pedang”, artinya teknologi akan berdampak buruk bahkan haus darah apabila digunakan untuk membunuh. Tapi, akan mendatangkan beribu kebaikan dan pahala apabila sang pengguna menggunakannya untuk hal hal yang positif.
By
Green Library
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar