Individu merupakan sebutan lain dari manusia (perorangan). Dengan kata lain antara individu dan manusia memiliki arti yang sama (not difference). Yang berbeda hanya dari segi dimana dua kata tersebut dilahirkan.
Individu berasal dari bahasa latin, yaitu individium berarti yang tak terbagi, arti tersebut sangat pantas untuk menamakan suatu benda yang paling kecil dan sesuatu yang tak terbatas, tapi jangan salah menginterpretasikan terhadap arti diatas, bukan berarti manusia (individu) tidak bisa dibagi secara keseluruhan melainkan individu yang dimaksud adalah manusia yang tidak hanya memiliki satu peran saja, tapi ia mempunyai multi peran sesuai permintaan sikondom. Dan tidak boleh tidak, multi peran tersebut harus sama di kerjakan.
Keharusan mengerjakannya menuntut manusia untuk bisa mengatur multi peran yang dia miliki. Agar tidak terjadi “tabrakan” dari peran-peran yang ada.
Dalam kondisi individual vertikal, seorang individu dituntut untuk menghamba dan melakukan dedikasi secara ikhlas terhadap yang maha segala, yaitu Allah SWT itu merupakan wujud dari eksistensi individu yang berposisi hamba yang lemah.
Dalam berbagai ciri kehidupan, manusia tidak akan terlepas dari yang namanya norma atau undang undang. Dalam korelasi vertikal, tuhan juga memberikan aturan yang harus dijalankan oleh setiap individu. Biasanya , norma yang ada pada situasi ini adalah aturan yang berhubungan dengan ibadah- ibadah mahdiyah. Contoh konkretnya saja, tata cara melakukan shalat, zakat, dan lain -lain. Apa saja yang harus dikerjakan dan apapun yang harus ditinggalkan.
Maka, hubungan vertikal ini, akan berjalan dengan harmonis dan dapat menghasilkan hal-hal yang bermamfaat bagi individu, jika setiap individu masih tetap berjalan diatas normanya.
Situasi selanjutnya dimana pada saat itu, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan sesamanya. Mengingat tak satupun manusia dimuka bumi ini tidak dapat hidup sendirian tanpa adanya orang lain realitasnya, manusia hidup dengan saling kebergantungan satu sama lain.
Inilah tugas yang harus dia perankan saat ia menyandang predikat makhluk sosial, atau biasa disebut sebagi hubungan horizontal.
Dalam hubungan horizontal, setiap individu akan berhadapan dengan bermacam-macam perbedaan. Baik perbedaan agama, suku, bahasa serta budaya. Perbedaan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk bersikap menutup diri dari lingkungan sosialnya. disebabkan sikap ”kebergantungan” tersebut tidak bisa dicopot dari dirinya. Dan hal itu hanya bisa dicapai dengan jalan interaksi.
Fakta memberi tahu kita bahwa interaksi antara individu tidak jelas menimbulkan konflik diantara mereka. Biasanya, konflik itu terjadi karena salah satu invidu tidak dapat beradaptasi terhadap lingkungan masyarakatnya dan terkadang tingkah laku yang dimunculkan bertentangan dengan norma kolektif yang berlaku dimasyarakat. Sehingga interaksi yang hadir bukan lagi berbentuk produktif, melainkan deskonstruktif.
Sejenak kita kembalikan pada pemahaman awal mengenai individu, yaitu sebagai satuan yang tidak dapat dibagi, maka pemahaman itu akan menimbulkan persepsi baru, bahwa jika ia tunduk atau patuh terhadap norma denagn cara bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya, secra otomomatis ia dapat dikatakan sebagai seorang yang kehilangan individualitasnya.
Nach, pertanyaan yang lahir kemudian, bagaimanakah seseorang induvidu seharusnya bersikap dalam rangka mempertemukan dua sisi yang saling berlawanan tersebut. Secara realitas intuisi di atas bisa dikatakan bertolak belakang dan seakan-akan sulit untuk menemukan titik temunya. Akan tetapi begini, jika setiap individu mempunyai kesadaran sejak awal, bahwa dirinya tidak hanya memiliki satu peran saja, melainkan banyak peran yang harus ia jalankan, yang peran itu akan datang silih berganti.
Dengan kesadaran dan pemahamnya individu akan mampu memerankan keindividuanya dalam satu sisi, dan sebagai makhluk sosial disisi yang lain, yang tidak boleh tidak ia diharuskan untuk mengadaptasikan perbuatanya menurut situasi aktual yang dihadapinya atau disesuaikan dengan norma masyarakat lingkungan yang ia huni. Alhasil, hubungan manusia dengan manusia akan benar-benar mendatangkan kesejahteraan dan perdamaian antara individu.
By:Green Library
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar