Selasa, 28 Juni 2011

Dekap harap ku

Itu matahari
lalu purnama bulan
sinar para semburat persegi lima
itu yang kita nanti
sebagai bukti pemotretan retorika
lakon kita
tak perlu kau tersenyum
apalagi menciptakan setumpuk tawa
Cuma untuk sekedar menghargai bahasa
yang tercipta untukmu yang masih ada
karna bagiku itu luka
luka disisi tawamu yang tak seapa
karna ku tahu takkan pernah ada yang tahu
tentang terpecahnya kebersamaan
saat tawa menjadi persaksian
dan luka menjadi akhiran
itu yang ku takutkan
saat harapan kita benar-benar terpecah
saat sinar matahari yang dulu hadir
sebagai fakta tentang duka
duka bagiku ,
tepatnya bagi orang yang selalu gagal dalam bercinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar