Minggu, 19 Juni 2011

EMOTUVISME ”BUDAYA GHASAB” DIKALANGAN SANTRI



Masyarakat pesantern atau dengan sebutan notabennya ”SANTRI” merupakan komunitas kecil ataupun besar yang masing-masing individu senantiasa terlibat dalam interaksi sosial, ekonomi maupun urusan politik.seiring dengan meluasnya pasca modernisasi, karakteristik kemajemukan serta problem yang muncul dipesantern terisualisasi seperti masyarakat luas pada umumnya. Sebab pesantren bukan lagi institusi eksklusif yang selalu didoktrin sebagai sekumpulan komunitas yang bersifat ortodoks, fanatisme dan fatalitas. Akan tetapi pesantren adalah institusi sosial yang dalam pengembangannya senantiasa menggunakan pendekatan inisiatif kreatif seperti kebersamaan dan keterbukaan santri melalui metode fair play
Pesantren dengan berbagai macam fenomenanya, serta beranekaragam keunikannya muncul sebagai institusi konfensional yang memiliki corak tersendiri, out put pendidikannyapun sangat has dengan metode kulturalistik.
Ada satu titik keunikan yang membuat pesantren berbeda dengan  institusi pendidikan lainnya, kehidupannya masyarakat pesantren pada hakikatnya terpancar pada model kebersamaan keterbukaan serta keikhlasan santri. Hal ini tervisualisasi dengan aktifitas unik santri yakni menggunakan sesuatu milik santri lain sekenanya, mayoritas santri berasumsi bahwa barang yang ada adalah milik bersama, didapat bersama sampai memakainya pun keroyokan. Jika ada sesuatu barang yang sangat dibutuhkan, tidak memandang siapapun pemiliknya aktifitas aneh ini disebut dengan ”Ghasab”. Budaya ghasab tidak hanya terjadi pada komoditi barang saja namun berbagai macam barang yang dibutuhkan sesuai dengan situasi dan kondisi ironisnya, hampir disetiap pesantren utamanya pesantren terkemuka, budaya ghasab sudah mendarah daging dan menjadi hal yang biasa-biasa saja.
Gambaran penuh kebersamaan lainnya terpancar ketika salah satu santri yang dikunjungi oleh orang tuanya, maka santri yang dapat kiriman tersebut langsung berteriak. Memberi pengumuman bahwa sekarang ada agenda makan enak. Santri satu daerah sudah pasti datang berbondong-bondong untk makan bersama, rebutan posisi paling depan, seperti anak ayam yang dipanggil makan oleh  induknya. Memang jika ditelaah, ada kesan serabutan, jorok. Namun nikmatnya tidak bisa dibandingkan dengan makan direstoran berbintang, orang makan disana kesannya materialistik, formalistik dan individualistik. Makan keroyokan ala santri nikmatnya luar biasa ada rasa kebersamaan, senasib serta memupuk nilai-nilai keikhlasan tinggi seperti dalam budaya ghasab.
Secara pragmatif normatif, budaya ghasab memang tidak dapat dibenarkan. Anehnya budaya ini dikalangan santri seakan-akan sudah dilegitimasi oleh sikap santri sendiri yang merasa tidak kehilangan ketika barangnya kena ghasab, hal ini disebabkan karena sifat santri yang selalu berasumsi positif bahwa barang yang di ghasab akan kembali dengan sendirinya. Apabila ia butuh kepada barang yang telah di ghasab, ia akan mengambil alternatif kreatif dengan mencari barang yang sejenis milik temannya unutk dipakai sementara, lantas yang menjadi tanda tanya besar dibenak penulis . mengapa budaya ghasab dikalangan santri tidak sampai menimbulkan desentegrasi sesama santri padahal jika katifitas nyeleneh ini terjadi dikalnagn masyarakat luas sudah pasti akn membuncah pada titik ketegangan dan menimbulkan polemik yang cukup alot antar masyarakat.
Untuk menaggapi problem diatas mari kita kembali menelaah aktifitas sehari-hari santri yang cenderung memiliki persepsi kolektif terhadap banrang yang dimiliki. Apalagi mental santri digenjot oleh lingkungan agamis agar bertindak sesuai dengan nilai-nilai Islam termasuk dintaranya bersikap dermawan serta bertoleransi tinggi antar sesama santri.
Dari sini muncullah titik perbedaan mental yang cukup signifikan antara komonitas santri dengan masyarakat luar pada umumnya masyarakat luar cenderung mengandrungi sikap individualis, kapitalis, dan hampir tidak ada barang pribadi yang diatas namakan milik bersama. Karakter pribadi yang saat ini menimbulkan sikap arogan, materialistis yang ujung-ujungnya berahir pada sikap hedonis, westernisasi dan adanya legitimasi barang mutlak milik pribadi yang tidak dapat diganggu gugat.
Gambaran mengenai budaya ghasab dikalangan santri kesannya memang hal yang sangat ekstrim untuk dikaji, namun seiring dengan inprovementasi pendidikan dan pemikiran santri menyebabkan banyak kebijakan-kebijakan baru yang telah disepakati oleh pengurus pesantren termasuk larangan melakukan tindakan ghasab. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi prilaku santri yang dikhawatirkan nmembantu dalam pembentuikan kepribadian santri ketika terjun dalam masyarakat luas, sebab pada hakikatnya budaya ghasab di pesantren tidak dapat dibenarkan oleh syariat Islam, meski antar ulama’ aswaja terjadi perbedaan pendapat menegenai hukum ghasab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar