Selasa, 28 Juni 2011

KAU, DALAM LUKISAN SENJAKU

Aku tak pernah menyesal mengenalmu, sekalipun pada akhirnya kau mengotori persahabatan ini dengan noktah merah-muda. Nokta yang kemudian ditafsir menjadi sebuah rasa yang pada akhirnya diterjemah kedalam bahasa cinta. cinta yang tak pernah ku inginkan, dan harus kusesali, kenapa harus kamu? tapi, mungkin ini bukan salahmu, tapi salahku. Ya..., salahku. Kenapa aku harus begitu memperhatikanmu. aku pikir inilah wujud persahabatan. Dengan cara ini, mungkin aku bisa membalas semua yang sudah kamu berikan sama aku. Ilmu, motivasi dan saluran semangat. Tapi ternyata kamu menilai salah perhatianku. Aku tak tahu apa yang mesti aku sikapkan dihadapanmu. Jika segala sikap yang aku tunjukkan, kamu maknai sebagai sebuah harapan.
Lima tahun yang lalu, awal aku mengenalmu dan kemudian ku ikat kamu dalam wahana persahabatan yang pada akhirnya menyeret kita pada persaudaraan. Kehadiranmu telah menghapus sepiku menjadi pijaran tawa. Kamu tidak hanya menjadi teman disaat suka dukaku. Tapi kamu adalah saudaraku yang selalu ada untuk kujadikan sandaran ketika aku rapuh. Tak pernah ada luka yang tercipta dari sekuel kisah yang hampir rampung kita bangun selama lima tahun dibawah naungan senja. Walau kadang rasa jengkel datang untuk melatih jiwa kita. Tapi kita tetap bisa merangkai sebuah kata ”SAHABAT”.
Sore ini, saat senja enggan untuk bertahta, ada sekawanan merpati putih yang memporak poranda kisah kita yang hampir rampung dalam kesempurnaan dan menyeretnya kedalam lakon asa.
”Maafkan aku Ra, aku tahu, aku tak berhak memiliki rasa ini. Tapi kamu memang harus tahu semua ini”. Ucapmu kala itu di taman senja. Tampak sekali kamu sangat gelisah. Dan harus kuakui aku tak tahu penyebabnya.
”Rasa apa Alif? Katakan saja jika aku memang berhak tahu”. Ucapku seraya memainkan ilalang di tempat kita duduk. Aku sadar ini adalah pembicaraan yang sangat berbeda selama lima tahun kita bersahabat. Aku tak pernah mengenal sosok Alan yang sekarang ada di hadapanku. Sosok ini penuh keputus asaan dan kegelisahan, bukan Alif yang selalu optimis dan periang yang kukenal. Kemana kamu sembunyikan dirimu sahabat? Apa beban yang kau pikul begitu berat? Aku bersedia untuk menjadi sandaran kegelisahanmu, seperti bersedianya kamu dalam setiap masalahku.
”Ra, jika seandainya selama ini aku tak pernah menganggapmu sahabat, apakah kamu marah?”. Tanyamu sambil memegang bahuku, aku menatapmu tak mengerti aku mencoba mencari makna lain dari matamu, tapi kamu berpaling seolah-olah aku tak berhak tahu semua itu.
”Ya, mungkin aku memang marah, karena aku pikir, waktu lima tahun sudah cukup menanamkan arti sahabat dalam diri kamu. tapi ternyata tidak. maafkan aku, jika ternyata aku tidak bisa menjadi sahabat baikmu”. Aku kecewa, ya... sangat tapi aku yakin bukan itu yang kamu maksud. aku sabar menunggu kepastianmu.
”bukan itu maksud aku Ra. sama sekali bukan itu. Kamu adalah hal yang paling berarti buat aku”. ucapmu semakin tersiksa. Aku bingung dengan tingkahmu, adakah yang salah dari persahabatan kita? tak biasanya kamu semisterius ini.
”lima tahun, aku mencoba merubah rasa ini menjadi persahabatan. tapi nyatanya aku kalah pada perasaanku sendiri Ra. Aku rapuh. Dan harus ku akui aku tidak bisa menganggapmu sahabat, semua itu karena aku mencintaimu”. Satu kata yang terucap, sudah cukup membuatku remuk. Jadi, rasa itu yang selama ini mencipta luka dalam tawamu. Aku terpaku tak percaya dengan apa yang barusan telah ku dengar. Aku yakin itu bukan perkataanmu. Tapi dalam sadarku, itu benar-banar kamu, Alif sahabatku.
”maafkan aku Ra, jika rasa ini salah”. Ucapmu lalu berlari meninggalkanku dalam ketidak percayaan. Lagi-lagi ini bukan salahmu, jika pada akhirnya kamu mencintaiku. Tapi satu hal yang harus kamu sadari, kamu tahu dan sangat tahu. aku telah bersama Reza, sahabatmu. Dan kamu tahu rasaku untuk siapa, melebihi rasa tahuku sendiri. Dan bahkan kamu yang benar-benar mengerti tentang cintaku untuk Reza. Ini bukan salahmu, dan rasa itu bukanlah sebuah kesalahan.
Aku berusaha mengejarmu, walaupun aku tak tahu dengan alasan apa aku mengejar mu.
’’Alif, tunggu!” cegah ku. Dan tanpa aku sadari, aku telah memelukmu, erat. satu kebodahan yang benar-benar ku claim salah. Selama ini aku memang benar-benar menyayangimu sebagai sahabat, tidak lebih. Tapi sekarang, perlukah hal itu dipertanyakan? saat hati ini tak sanggup tak kehilanganmu.
”aku tahu, aku sangat tahu” uacapmu sambil melepas pelukanku. ”aku tau cintamu hanya untuk Reza, aku takkan pernah sanggup menggantikan posisi Reza di hatimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, cintaku tak butuh balasan. Cintaku tidak menuntut jawaban. Aku hanya ingin kamu tahu disini aku yang mencintaimu, disini ada aku, yang selalu mengharapmu untuk ada. Itu saja sudah cukup buar aku”. Katamu sambil mengusap air mata yang mulai rewel membasahi pipiku.
”Aku tidak pernah mengharapmu menangis”. Ucapmu lalu memelukku.
”Aku janji, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu dengan Reza. Aku tidak akan pernah lagi mengusikmu dengan cintaku yang telah membuatmu bersedih, aku janji”. Ucapmu yang terakhir kali. Lalu kamu pergi meninggalkanku, meninggalkan sepenggal rasa, yang aku sendiri tak tahu harus menempatkan rasa itu dimana? Jika semua rasa yang selama ini tercipta dipenuhi dengan nama Reza, tapi kenapa aku tak rela melepasmu?
Allah, mohon dengan sangat agar engkau melabuhkan cinta ini pada seorang yang memang kau cipta untuk seorang aku,..
Tiga bulan sudah berjalan tanpa kehadiranmu dalam setiap sepiku. Kau telah pergi, meninggalkan sepenggal kisah yang tak sempat ku sempurnakan. Kamu meninggalkanku, saat aku memutuskan untuk menggantikan nama Reza dengan namamu dalam trotoar jiwaku. Tak seharusnya kau melakukan ini. Karena aku masih mengaharapmu untuk ada, dan menemaniku merangkai senja.
Andai waktu itu kamu tak pernah mengenalku, mungkin kamu tak perlu berkenalan dengan luka. Dan andai aku bisa mengembalikan semuanya, seperti diawal persahabatan kita. Ahh, semua itu hanya angan yang membuat luka ini terpahat semakin dalam. Semuanya sudah terlambat. Terkadang aku berpikir, apa alasanmu mencintai wanita sepertiku. Yang tak punya kelebihan apa-apa untuk diandalkan. Tapi belakangan ini aku sadar, cinta kita tak beralasan. Aku tak punya cukup alasan untuk mencintaimu. Karena aku takut, ketika alasan itu hilang, cinta ini pun akan pudar. Aku ingin mencintaimu, sampai nafasku tak mampu lagi tuk berhembus. Biarlah senja dipantai chora yang mengukir kenangan kita. Karena aku sendiri tak cukup mampu bertahan dengan air mata. Aku mencintaimu sahabat, dan aku tak pernah berharap kau akan kembali dan merangkai kisah yang penuh asa ini. Biarlah kisah ini menjadi memoar senja kita. Dan biarlah aku mencintaimu dibalik kaca. tanpa kamu tahu, di sini aku juga mengharapmu.
Alif sahabatku, kini aku di sini sendiri
dengan balutan sepi yang nakal menggangguku
green_library collection

Tidak ada komentar:

Posting Komentar