“Seindah panorama pagi aku menyapamu, bukan untuk apa. Tapi sekedar memastikan bahwa kamu masih ada” itulah sms pertama yang ku kirim tepat ke nomermu yang baru aku dapat dari Reyna, kawan kita. Tanpa kau tidak tahu bahwa Reyna telah memberikan nomermu padaku. Aku menunggu tanggapanmu atas sms yang ku kirim itu, ternyata tak sia-sia penantianku. Hand phone ku pun berdering… “ maaf anda siapa?” itu tanggapan darimu.
Hhm… aku menghela nafas panjang, tanpa diam lama aku langsung hubungi Reyna kembali untuk tidak memberi tahu mu, bahwa aku lah pemilik nomer yang tiba-tiba sms pada mu. Reyna pun mengiyakan setelah aku kasih beberapa alasan tentang rencanaku itu. Rencana tentang aku yang tak kan mengakui siapa sebenarnya diriku padamu, karna satu hal. Aku ingin mencoba menjadi orang lain untuk ada bersamamu. Karena dengan itu pula aku lebih leluasa menasehatimu, menanyakan kabarmu bahkan mencari tahu apa yang sebenarnya selama ini kau dari aku yang hanya merupakan sahabat lugu bagimu.. Karena jika aku akui siapa aku sebenarnya padamu tak ayal kau akan mengabaikan sapaku, kata-kataku bahkan nasehat-nasehat ku yang bagimu hanyalah sebagai sahabat lugu dalam majalah kita. Setelah rencanaku disepakati oleh Reyna, aku pun langsung membalas sms darimu.” Aku adalah orang yang sedang mencari seoarang teman …entahlah, kenapa pencarian itu tersasar padamu”
“ nomer ini anda dapat dari siapa?” tanyamu kembali di sms itu. Aku bingung harus jawab apa… tak sempat ku berpikir atas jawaban itu, hand phone ku kembali bergetar “ mbak Reyna yang memberikan nomer ini pada anda. Jadi yang jelas anda pastinya teman dia, berarti anda juga kenal aku kan?” sambungmu. Hah… tidak mungkin! Reyna tidak mungkin mengatakan semua itu. Bukankah dia sudah berjanji padaku untuk merahasiakan tentang ini? Untuk memastikan itu, aku kembali menghubungi Reyna lewat sms. “ bukankah kau telah sepakat untuk tidak memgatakan hal ini pada Vara, but, why you say to her?”. “ aku memang mengatakan ada yang meminta nomer dia dan aku kasih itu. Tapi sama sekali aku tidak mengatakan bahwa orang itu kamu Wan…” aku pun mulai tenang dengan jawaban yang Reyna kasih. “ ooo.. gitu. Ok! Thanks…ku harap, kau tetap akan merahasiakan semua ini darinya”. “ memangnya kenapa sih kamu ngotot banget untuk merahasiakan siapa dirimu pada Vara?” sms Reyna lagi. “ aku hanya ingni meyakinkan dia, bahwa dia tak seperti apa yang dia pikir. Yah, dia sama seperti yang lainnya bahkan dia lebih mampu. Sebagai teman, aku hanya ingin membuat dia percaya pada dirinya sendiri. Tak lebih dari itu tujuanku Reyna” singkat jawabku pada sms yang Reyna kirim. Hand phone kembali berdering, sms dari Reyna lagi. “ kenapa jika hanya ingin itu, kau tidak mengakui saja siapa dirimu. Tak ada masalah kan? Bukankah kau memang temannya?” “ jika aku mengaku bahwa aku Wanda, kata-kataku tak akan ada apa-apanya buat dia. Sudahlah, turuti saja pintaku ini, aku tak kan macam-macam kok ke dia”. “ sampai kapan sandiwaramu ini Wan?” sms Reyna lagi. “ hanya sampai di tanggal 18 september kok, setelah itu aku akan menghilang Rey…” .
Selesai smsan ku dengan Reyna, aku kembali menanggapi sms dari Vara yang ku tunda untuk ku jawab “ yah, aku memang kawan Reyna. tapi tak berarti dengan hal itu aku kenal kamu. Karena aku mengenal Reyna hanya karna di dunia tulisnya. Yups! Aku pun kenal dia dari sms saja. Kau tanyakan aku tahu kamu? Reyna yang cerita” . “ apa saja yang dia ceritakan?” smsnya kembali menyapaku. “ tentang kamu yang suka mengilustrasi kehidupan, kamu yang sempat punya hati pada seorang adam bernama Farzan dan banyak yang lain…” hah… sebenarnya Reyna tak pernah cerita hal itu padaku, jelas aku tahu semua itu, karna aku memang temanmu yang sempat tahu siapa dan apa yang terjadi padamu. Tiba-tiba sms dari Reyna masuk “ Wan, Vara tuh penasaran siapa dirimu, pemilik nomer triple 7. belum kasih tahu nama tah? Oya, tadi dia mau marah ke aku gara-gara kamu yang sempat bilang kalau aku yang telah menceritakan tentang nya padamu, awas lho… jangan macam-macam!”. Tak sempat aku membalas sms Reyna, sms dari Vara hadir lagi.” Katakanlah, siapa sebenarnya dirimu?”. “ aku Moh. Irwan, yang biasa dipanggil Irwan, dengan nama pena @ewan dan aku anak Pamekasan, Galis. Sudah cukupkah aku perkenalkan diriku untuk kau terima jadi sahabat mayamu. Yang mungkin bisa mencoba mengerti kamu meski tak kan ada waktu untuk mempertemukan kita?” jawabku dengan sambil tersenyum lucu atas lelucon ini. Semoga tak berakibat fatal, aku harap semua kan sesuai dengan tujuan awalku. Sebelum Vara kemabali sms, aku sms Reyna lagi. Sekedar untuk ngasih tahu nama samaranku. “ Moh. Irwan. Dengan panggilan Irwan, nama pena @ewan dan orang Pamekasan, Galis. Itulah pengakuan diriku pada Vara, jadi kalau dia nanya sesuatu ke kamu, jawab saja itu. Yang jelas iyakan saja setiap tanyanya tentang aku, thanks” ku akhiri disitu sms dengan Reyna.
Agh … tak terasa, rupanya hari telah sore. Aku rebahkan badanku ke kasur sekedar hilangkan rasa penat ini. Sambil istirahat, aku sms Vara lagi “ apa kau bisa ceriata siapa dirimu padaku?”. Beberapa detik kemudian hand phoneku berdering. Vara membalas “ aku tak bisa ceritakan itu padamu”. “ ok! Aku tahu kalau aku bukanlah siapa-siapa, tapi setidaknya sebagai sahabat mayamu yang sudah kau akui itu padaku… agar nanti aku bisa memahami siapa kamu. Tapi aku tak memaksa, karena aku tak suka itu”. Jawabku. “ buka begitu, tapi karna Va mang tidak tahu siapa Va itu. Baiklah, Vara katakan setahu Vara saja. Yang Va tahu, Va itu suka marah, nggak p-d dan Va nggak bisa seperti teman-teman yang lain, mereka hebat!”. Jelas Vara. “ dari mana kau tahu kalau mereka hebat Va? Apa karena mereka dapat prestasi? Bisa dikenal banyak orang?” tanyaku. “ karena aku rasa memang mereka hebat. Mereka bisa dalam segala hal. Sedang Vara tidak!”. “Kamu tahu kenapa mereka bisa di pandang hebat oleh orang lain? Tidak lain karena mereka telah melakukan apa yang ada pada diri mereka, mereka yakin dan percaya dengan apa yang mereka perbuat. Sedangkan kamu? Vara, seandainya kamu juga yakin dan percaya diri, maka kamu bisa seperti mereka bahkan lebih dari mereka. Cobalah belajar mengerti apa yang ada pada diri kamu sebenarnya, jangan selalu melihat apa yang ada pada orang lain, karena itu bisa membunuh dirimu Va. Perrcaylah, bahwa pada setiap orang itu memiliki keistimewaan, dan kamu punya keisatimewaan itu Va!”. “ aku butuh bimbingan untuk belajar hal itu” tangapan Vara atas sms ku tadi.
“ kamu punya Reyna, dia cukup dewasa untuk mengajarimu…”. “kurasa Reyna tak punya banyak waktu untukku, kenapa bukan kamu?”. “ karena aku rasa aku belum cukup dewasa untuk mengajari hal itu”. “ jadi kau tak mau?”. “ bukan tak mau, tapi kurasa dengan waktu 5 hari saja itu tak kan cukup sebentar lagi kau balik ke pesantren pun yang ku tahu aku hanyalah remaja yang suka pada kedewasaan jadi tak tentu orang yang suka pada kedewasaan itu adalah orang yang sudah dewasa, tak lain ia masih ingin belajar itu. Meski tak sedikit orang kata, bahwa orang dewasa itu hanya membingungkan. Oya, dengan sendirimu saja sudah bisa kok tuk belajar memahami, tanpa harus melibatkan orang lain, jadi jangan tergantung pada orang lain Va. Itu tak baik” ku akhiri smsku dengan Vara disitu.
Keesokan harinya tiba-tiba sms dari Reyna menyapaku “ jangan sampai ngebuat Vara bergantung pada hadirmu yang sesaat itu, kamu tahu dia kan?”. Aku sadari itu, bahwa Vara memang sangat sulit untuk memaafkan orang. Jadi aku takut jika dia tahu yang sebenarnya, malah nanti… tidak, aku harus cepat menghilang dari nya tanpa harus ngaku siapa aku.
Aku sms lagi tentang rencanaku itu pada Reyna “ yaudah Rey, aku gagalkan rencanaku sampai disini saja, tanpa harus aku akui siapalah aku. Biarlah dia mengenal Irwan, bukan Wanda yang selama ini menemani harinya di sms itu. Yah, anggap saja Irwan adalah sahabat maya baginya. Karena Rey, jika aku pergi atas nama Wanda, maka aku yakin ia akan mengabaikan segala nasehat yang Irwan katakan lalu tentang dirinya. Jadi jika nanti sudah tida balik ke pesantren tak usah kau tanggapi apa-apa jika ia menanyakan atau bercerita tentang Irwan”. “its, ok!” jawab Reyna singkat.
Aku kembali merangkai kata untuk sms ke Vara “ maafkan segala salahku, lebih baik aku pergi dari pada harus menyisakan kecewa suatu hari nanti”. “ kenapa tiba-tiba kau mau pergi; tak maukah kau untuk berkawan dengan ku lagi? Vara balik bertanya atas pernyataan yang ku kirim lewat sms barusan.
“ sudahlah, kau tak perlu tahu apa alasanku. Yang jelas, cukup ku ingin kau ingat bahwa kau tak beda dari mereka, kamu bisa seperti mereka bahkan lebih. Cobalah belajar untuk mengenali siapa dirimu sebenarnya, karena dengan itu kau akan terlihat hebat pula. Sama dengan pandanganmu pada mereka. Thanks, sudah menemani hari-hariku, tak usah kau sapa hariku lagi. Sudah cukup sapa kita yang hanya beberapa hari ini tuk dijakan alasan bahwa aku sempat menjadi sahabat mu meski maya”. “ jadi kau benar-benar kan pergi?” Vara kembali tanyakan itu padaku. Tapi cukuplah aku tak mau
menanggapinya lagi, aku tak mau semakin memberi harapan padanya. Cukup sampai disini saja, yang penting tujuanku sudah terlaksana. Bahwa aku ingin dia tahu dan sadar bahwa dia bisa menjadi orang yang hebat, sama seperti yang lain!
@#@
Maafkan aku Va, tak penah ada Irwan atas nama pena @ewan di dunia ini, dia maya. Yang ada hanyalah aku sahabat lugumu… maaf, jika aku lancang berkawan denganmu atas nama irwan. Karena jika aku mengakui siapa diriku, kau tak kan dengarkan kataku. Percayalah, kau bisa jadi yang terbaik bagi siapapun!!!
Sampai senja nanti kembali bersajak,
Aku pasti kembali kan wujud asalku, siapa aku pada dirimu,…
Selasa, 28 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar