Selasa, 28 Juni 2011

KAU, DALAM LUKISAN SENJAKU

Aku tak pernah menyesal mengenalmu, sekalipun pada akhirnya kau mengotori persahabatan ini dengan noktah merah-muda. Nokta yang kemudian ditafsir menjadi sebuah rasa yang pada akhirnya diterjemah kedalam bahasa cinta. cinta yang tak pernah ku inginkan, dan harus kusesali, kenapa harus kamu? tapi, mungkin ini bukan salahmu, tapi salahku. Ya..., salahku. Kenapa aku harus begitu memperhatikanmu. aku pikir inilah wujud persahabatan. Dengan cara ini, mungkin aku bisa membalas semua yang sudah kamu berikan sama aku. Ilmu, motivasi dan saluran semangat. Tapi ternyata kamu menilai salah perhatianku. Aku tak tahu apa yang mesti aku sikapkan dihadapanmu. Jika segala sikap yang aku tunjukkan, kamu maknai sebagai sebuah harapan.
Lima tahun yang lalu, awal aku mengenalmu dan kemudian ku ikat kamu dalam wahana persahabatan yang pada akhirnya menyeret kita pada persaudaraan. Kehadiranmu telah menghapus sepiku menjadi pijaran tawa. Kamu tidak hanya menjadi teman disaat suka dukaku. Tapi kamu adalah saudaraku yang selalu ada untuk kujadikan sandaran ketika aku rapuh. Tak pernah ada luka yang tercipta dari sekuel kisah yang hampir rampung kita bangun selama lima tahun dibawah naungan senja. Walau kadang rasa jengkel datang untuk melatih jiwa kita. Tapi kita tetap bisa merangkai sebuah kata ”SAHABAT”.
Sore ini, saat senja enggan untuk bertahta, ada sekawanan merpati putih yang memporak poranda kisah kita yang hampir rampung dalam kesempurnaan dan menyeretnya kedalam lakon asa.
”Maafkan aku Ra, aku tahu, aku tak berhak memiliki rasa ini. Tapi kamu memang harus tahu semua ini”. Ucapmu kala itu di taman senja. Tampak sekali kamu sangat gelisah. Dan harus kuakui aku tak tahu penyebabnya.
”Rasa apa Alif? Katakan saja jika aku memang berhak tahu”. Ucapku seraya memainkan ilalang di tempat kita duduk. Aku sadar ini adalah pembicaraan yang sangat berbeda selama lima tahun kita bersahabat. Aku tak pernah mengenal sosok Alan yang sekarang ada di hadapanku. Sosok ini penuh keputus asaan dan kegelisahan, bukan Alif yang selalu optimis dan periang yang kukenal. Kemana kamu sembunyikan dirimu sahabat? Apa beban yang kau pikul begitu berat? Aku bersedia untuk menjadi sandaran kegelisahanmu, seperti bersedianya kamu dalam setiap masalahku.
”Ra, jika seandainya selama ini aku tak pernah menganggapmu sahabat, apakah kamu marah?”. Tanyamu sambil memegang bahuku, aku menatapmu tak mengerti aku mencoba mencari makna lain dari matamu, tapi kamu berpaling seolah-olah aku tak berhak tahu semua itu.
”Ya, mungkin aku memang marah, karena aku pikir, waktu lima tahun sudah cukup menanamkan arti sahabat dalam diri kamu. tapi ternyata tidak. maafkan aku, jika ternyata aku tidak bisa menjadi sahabat baikmu”. Aku kecewa, ya... sangat tapi aku yakin bukan itu yang kamu maksud. aku sabar menunggu kepastianmu.
”bukan itu maksud aku Ra. sama sekali bukan itu. Kamu adalah hal yang paling berarti buat aku”. ucapmu semakin tersiksa. Aku bingung dengan tingkahmu, adakah yang salah dari persahabatan kita? tak biasanya kamu semisterius ini.
”lima tahun, aku mencoba merubah rasa ini menjadi persahabatan. tapi nyatanya aku kalah pada perasaanku sendiri Ra. Aku rapuh. Dan harus ku akui aku tidak bisa menganggapmu sahabat, semua itu karena aku mencintaimu”. Satu kata yang terucap, sudah cukup membuatku remuk. Jadi, rasa itu yang selama ini mencipta luka dalam tawamu. Aku terpaku tak percaya dengan apa yang barusan telah ku dengar. Aku yakin itu bukan perkataanmu. Tapi dalam sadarku, itu benar-banar kamu, Alif sahabatku.
”maafkan aku Ra, jika rasa ini salah”. Ucapmu lalu berlari meninggalkanku dalam ketidak percayaan. Lagi-lagi ini bukan salahmu, jika pada akhirnya kamu mencintaiku. Tapi satu hal yang harus kamu sadari, kamu tahu dan sangat tahu. aku telah bersama Reza, sahabatmu. Dan kamu tahu rasaku untuk siapa, melebihi rasa tahuku sendiri. Dan bahkan kamu yang benar-benar mengerti tentang cintaku untuk Reza. Ini bukan salahmu, dan rasa itu bukanlah sebuah kesalahan.
Aku berusaha mengejarmu, walaupun aku tak tahu dengan alasan apa aku mengejar mu.
’’Alif, tunggu!” cegah ku. Dan tanpa aku sadari, aku telah memelukmu, erat. satu kebodahan yang benar-benar ku claim salah. Selama ini aku memang benar-benar menyayangimu sebagai sahabat, tidak lebih. Tapi sekarang, perlukah hal itu dipertanyakan? saat hati ini tak sanggup tak kehilanganmu.
”aku tahu, aku sangat tahu” uacapmu sambil melepas pelukanku. ”aku tau cintamu hanya untuk Reza, aku takkan pernah sanggup menggantikan posisi Reza di hatimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, cintaku tak butuh balasan. Cintaku tidak menuntut jawaban. Aku hanya ingin kamu tahu disini aku yang mencintaimu, disini ada aku, yang selalu mengharapmu untuk ada. Itu saja sudah cukup buar aku”. Katamu sambil mengusap air mata yang mulai rewel membasahi pipiku.
”Aku tidak pernah mengharapmu menangis”. Ucapmu lalu memelukku.
”Aku janji, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu dengan Reza. Aku tidak akan pernah lagi mengusikmu dengan cintaku yang telah membuatmu bersedih, aku janji”. Ucapmu yang terakhir kali. Lalu kamu pergi meninggalkanku, meninggalkan sepenggal rasa, yang aku sendiri tak tahu harus menempatkan rasa itu dimana? Jika semua rasa yang selama ini tercipta dipenuhi dengan nama Reza, tapi kenapa aku tak rela melepasmu?
Allah, mohon dengan sangat agar engkau melabuhkan cinta ini pada seorang yang memang kau cipta untuk seorang aku,..
Tiga bulan sudah berjalan tanpa kehadiranmu dalam setiap sepiku. Kau telah pergi, meninggalkan sepenggal kisah yang tak sempat ku sempurnakan. Kamu meninggalkanku, saat aku memutuskan untuk menggantikan nama Reza dengan namamu dalam trotoar jiwaku. Tak seharusnya kau melakukan ini. Karena aku masih mengaharapmu untuk ada, dan menemaniku merangkai senja.
Andai waktu itu kamu tak pernah mengenalku, mungkin kamu tak perlu berkenalan dengan luka. Dan andai aku bisa mengembalikan semuanya, seperti diawal persahabatan kita. Ahh, semua itu hanya angan yang membuat luka ini terpahat semakin dalam. Semuanya sudah terlambat. Terkadang aku berpikir, apa alasanmu mencintai wanita sepertiku. Yang tak punya kelebihan apa-apa untuk diandalkan. Tapi belakangan ini aku sadar, cinta kita tak beralasan. Aku tak punya cukup alasan untuk mencintaimu. Karena aku takut, ketika alasan itu hilang, cinta ini pun akan pudar. Aku ingin mencintaimu, sampai nafasku tak mampu lagi tuk berhembus. Biarlah senja dipantai chora yang mengukir kenangan kita. Karena aku sendiri tak cukup mampu bertahan dengan air mata. Aku mencintaimu sahabat, dan aku tak pernah berharap kau akan kembali dan merangkai kisah yang penuh asa ini. Biarlah kisah ini menjadi memoar senja kita. Dan biarlah aku mencintaimu dibalik kaca. tanpa kamu tahu, di sini aku juga mengharapmu.
Alif sahabatku, kini aku di sini sendiri
dengan balutan sepi yang nakal menggangguku
green_library collection

Lelaki buta

Kau kira aku tak tahu apa
Mengajak bermain cinta sambil berpuisi
Kau kira aku tak mengerti apa
Saat kau rayu aku menyanyikan sebait lagu suka
Aku punya mata
Kau tak tahu itu
Kau butakan hati, otakmu karna mengaku cinta
Aku tahu
Kau tak terlalu pandai bermain cinta
Kau tak pernah tahu itu,
Kau dibutakan cinta tak punya makna
Kau dibutakan cinta yang tak seapa
Belajar dulu lah
Sebelum beranjak menentang ku bermain cinta
Agar kau tak membabi buta
Aku lebih paham
Tentang cinta
Dari pada kau yang masih buta
Tak mampu melihat apa

SENANDUNG HATIKU

Berikan aku sedikit jawaban
Agar pasti adamu atau tidak
Karena aku tak mampu tuk selalu berhadap
Dengan waktu yang terus menggelisahkan ku
Cukup! Kau buat aku bingung!!
“Sebagai seorang perempuan, seharusnya engkau menjagaku. Kenapa malah sebaliknya, engkau akan menghilang?”
“ aku tak kan menghilang sayang... aku hanya butuh waktu untuk mendapat pekerjaan yang lebih menjamin akan kehidupan keluarga kita nanti. Untuk membiayai sekolah Raffi juga Ega. Dua atau tiga tahun aku pasti kembali”.
“ pekerjaan mas yang disini sudah cukup kok mas kalau hanya untuk membiayai mereka!”
“ Dek, marilah kau mengerti. Semakin hari kebutuhan kita akan bertambah, dan kita tidak bisa selalu bergantung pada pekerjaan mas yang hanya jadi sopir taxi ini...”
“ yasudah, itu terserah padamu. Aku tak memaksamu untuk ada disini bersama keluarga!”
“ kalau begitu, kenapa kau masih terlihat marah sayang...?”
“ mas, anak-anak butuh kamu. Jadi...”
“ ok! Baiklah. Aku hanya setahun disana. Gimana?”
Terpaksa aku mengangguk secara perlahan, sesungguhnya aku tak pernah rela atas keputusannya untuk pergi. Tapi mau bagaimana lagi, alasan ku tak mampu membuat ia tetap bertahan disini.
“ terimakasih sayang,... aku pasti selalu merindukanmu dan anak-anak. Dan mas janji akan datang tepat waktu. Mas berangkat, jaga dirimu baik-baik. Cintaku untukmu”ucapnya, lalu ia pun pergi meninggalkan segala yang ada.
Itulah percakapan ku denga mas Ridwan sembilan bulan lalu... percakapan orang tua yang mempermasalahkan hidup anak-anaknya di masa depan nanti. Sungguh aku merindukan Mas Ridwan.
ΩΩΩ
Aku hanyalah ibu rumah tangga yang kebetulan di karuniai dua orang anak yang harus ku pertaruhkan masa depan mereka. Karena itu amanah, dan aku harus bertanggung jawab atas semua itu.
Raffi, anak lelaki pertamaku yang sudah duduk di bangku VII smp, dan Ega yang masih ada di bangku enam SD. Mereka yang begitu patuh membuat aku tak susah jalani hidup meski tanpa hadirnya mas Ridwan disisiku untuk mereka.
Seakan hari aku jalani tanpa rasa khawatir pada keadaan kami yang hidup tanpa seorang imam keluarga. Terikasih Allah, karena Engkau telah menjadikan indah hari-hariku dengan anak-anak. Indahkan lah pula hari-hari mas Ridwan disana, aku tidak ingin dia melarat karena mempertaruhkan hidup kami ini.
ΩΩΩ
Sekian lama dari kepergian mas Ridwan keluar kota, membuat anak-anak bertanya-tanya karena ketidak datangannya yang sudah tiba pada waktunya.
“ ya, mama juga ingat itu Raffi. Entah mama juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini hand phone bapak mu tidak aktiv. Atau mungkin bapak mu masih belum bisa di ganggu karena kesibukannya” jelasku pada Raffi
“ setidaknya bapak ngasih kabar ma ke kita. Agar kita tahu bagaimana keadaannya di sana. Atau mungkin bapak memang sudah melupakan kita?” aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Raffi.
“ hush... tidak boleh ngomong begitu! Bapak sangat menyayangi kita semua, jadi tidak mungkin dia mengabaikan adanya kita. Percayalah Raf, jangan berpikiran kayak gitu lagi ya...biar nanti mama cari kabar ke tetangga yang lain, yang juga kerja ditemapat bapakmu”
“ bukan gitu ma, Raffi hanya tidak mau aja mama kelamaan nunggu hadirnya bapak. Yaudah kalau gitu semoga mama cepat dapat kabar tentang bapak” tegasnya. Lalu ia pergi dari hadapanku.
Aku berpikir sejenak, ku rasa apa yang dikatakan Raffi ada benarnya juga. Tapi tidaklah, mas Ridwan tidak kan setega itu padaku. Karena aku tahu, kami saling mencintai. Dan itupun sudah kudengar sendii dari mas Ridwan.
ΩΩΩ
Aku akan mencoba datangi Rendi, teman mas Ridwan yang baru saja datang dari luar kota tempat ia bekerja. “assalmulikum…” suara dari luar pintu. “waalaikum salam warahmah” jawabku smbil membuka pintu itu. Rendi. Ternyata dialah pemilik suara diluar pintu itu. “kebetulan Ren, aku memang berencana untuk ke runahmu. Memang ada apa Ren kok jadi kamu yang kesini?”. “aku hanya ingin menyampaikan pesan Ridwan kepadamu”. “kebetulan, aku mau ke rumah mu untuk menanyakan kapan mas Ridwan akan pulang Ren…” ada yang terlihat beda dari sikap Rendi melihat ku saat itu, atau adakah sesuatu yng dirahasiakan dariku tentang mas Ridwan?”. “ Ratna,.. aku tidak tahu soal itu. Aku hanya disuruh untuk sampikan bungkusan ini kepadamu. Yasudah kalau begitu aku pulang dulu. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan”. “terimakasih Ren..” setelah kuterima bungkusan titipan dari mas Ridwan, aku pun masuk rumah dan tak lupa ku tutup pintu. Aku coba duduk di ruang tamu sambil membuka bungkusan dari mas Ridwan. Hahm… mas Ridwn sangat menyayangi kami. Buktinya meski ia hampir pulang masih saja menitip oleh-oleh pada kami.
ΩΩΩ
Inikah alasan dia tak ingin pulang tepat waktunya
Tak mengabariku yang telah lama berselimut sepi tanpanya?
Allah… aku tidak percaya jika hal ini benar-benar terjadi pada keluarga kami. Karena kami tahu kami saling percaya dan mencintai… sungguh kurasa sangat mustahil jika mas Ridwan setega ini padaku, memaduku. Apa salahku hingga membuat dia berpaling dari apa yang sudah Ia punya, mungkinkah karena adaku yang serba sederhana ini, membuat ia lebih memilih untuk berpaling pada keadaan perempuan yang lebih sempurna?
Air mataku mengalir deras setelah suratnya ku baca berulang kali. Tetapi, secepatnya aku hapus air mataku agar anak-anak tidak mengetahui semua kejadian ini. Aku hanya tak ingin mereka merasakan sakit yang telah aku rasa ini. Cukup aku yang menanggung, tersiksa dengan sendiriku…
Hmm… sungguh maafkan aku Allah jika apa yang terjadi ini hanyalah merupakan kesalahan ku yang tak mampu memberikan yang tebaik pada mas Ridwan. Tapi cukup Allah, kurasa aku sudah benar-benar berusaha untuk menjadi perempuan yang sempurna bagi dia, suamiku.
“ ma…” suara Raffi terdengar dari kamar sebelah. “gimana ma, udah dapat kabar tentang keadaan bapak?”. Se cepatnya aku simpan surat dari mas Ridwan itu. “ udah syang… mama dapat kabar dari istrinya om Rendi, kalau bapakmu baik-baik saja. Dia tidak dapat pulang cepat karena banyak kerjaan, eman-eman Raf…” ku palingkan alasan yang sebenarnya dari Raffi. “tapi kenapa mama seperti habis nangis?”Tanya Raffi sambil menatap wajah ku yang sudah memerah ini. “ mama hanya menghawatirkan keadaan bapak sayang, merindukan hadirnya dengan kita di sini. Cuma itu kok ”. “mama yakin tidak kenapa –napa?” Raffi memelukku, “ma, Raffi selalu ada kok untuk mama, jadi mama tidak usah merasa sendiri. Apalagi kan ada adek yang selalu meramaikan suasna, jadi mama jangan sedih lagi ya…” aku tatap wajah Raffi yang masih terlihat polos itu. Ada kesedihan yang tersirat disana. “yaudah, mama istirhat dulu, Raffi masih mau ngelanjutin tugas untuk besok ya ma,..” lalu dia pun beranjak dari hadapanku. “ ma,…” tak lama dari kepergian Raffi, Ega datang menghampiriku. “ada apa sayang?” aku memeluknya dengan hangat kasih ini. Lagi-lagi aku menangis dipelukannya, sungguh aku terjerat dalam paksa rindu ini… hah, aku rapuh! “ lho… kok mama nangis?” aku cepat hapus air mataku. Sungguh aku tak ada maksud untuk enjadi ibu yang lemah bagi mereka. Karena dengan menangis akan membuat mereka pun rapuh. “mama hanya ingin menangis sayang, tidak ada keinginan lain kok. Yaudah sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar, istirahat sayang. Mama juga akan istirahat”. Ega pun menuruti pintaku, aku pun memilih untuk beranjak untuk rebahkan tubuh di kamar. Meski pada kenyataannya aku tak kan mudah bisa tutup mata ini.
ΩΩΩ
Sebulan setelah aku coba hidup lagi dengan hatiku yang dulu, mencoba kembali pada bahagiaku yang damaikan banyak orang. Nyatanya gagal total! Ironisnya semakin parah, aku lebih suka marah-marah pada anak-anak, bahkan mereka sering nangis karena merasa tersakiti dengan kata-kataku yang menurut mereka sudah keterlaluan. Aku jadi bingung dengan apa yang seharusnya aku bersikap sekarang.
Allah, tolong tunjukkan padaku jalan Mu, agar aku bisa kembali menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Karena aku mencintai mereka Allah,... aku tak ingin dengan kejadian kurang ajar ini ngebuat mereka frustasi. Karena kekanakan mereka yang masih membuat aku ragu tuk katakan hal yang sebenarnya terjadi ini.
Aku lebih memilih diam untuk menanggap setiap tanya yang kan terlontar dari anak-anakku nanti, tak lain tanya tentang bapaknya yang sudah memalingkan hati dari kami.
Cukuplah ini sebagai ujian bagi seorang aku ynag masih kurang paham menghidupi keluarga tanpa seorang imam. Aku yakin dibalik dukaku ini, ada bahagia yang melambaikan tangan. Dan aku pasti akan merasakan itu, meski masih aku tak tahu kapan akan kurasakan itu, bahkan mungkin sesampainya ajalku nanti. Agar sekalian luka ini aku bawa kubur saja dengan jasad dan bathinku yang telah terkoyakkan oleh perasaan yang terlalu sempurna aku punya.
Perempuan yang seharusnya dijaga, nyatanya dengan gampag dilontarkan dijalan yang meng-ambigukan hati,..
Mencoba aku buktikan pada setiap yang punya hati
Bahwa masih ada perempuan yang ingin menguatkan diri
meski hati dan perasan yang telah dirapukkan oleh lelaki tak berhati
karena tak semua perempuan mengalah dengan sendiri tanpa suruh hati
Allah, izinkan aku untuk menjadi perempuan yang kuat. Perempuan yang mampu menyongsong masa depan anak-anakku meski tanpa seorang lelaki yang dulu mengaku mencintaiku. Suamiku.
Izinkan aku tetap dalam jalan kesabaran dari-Mu ini Allah, agar aku tetap mampu menyatukan hati untuk mencintai-Mu. Mencintai Engkau yang senantiasa akan kembalikan hati suamiku pada hati kami lagi, bukan niatku untuk menagih Engkau agar di Engkau kembalikan ke pelukannku. Tapi satu hal, demi ank-anak agar tidak selalu mempertanyakn adanya. Karena sampai kapanpun mereka akan tetap menunggu bapaknya yang sudah terlanjur mereka cintai. Meski nyatanya sakit adalah sebagai makanan setiap hari-hariku. Aku akan siap menerima resiko itu, demi yang tercinta, Raffi dan Ega. Amanah yang Engkau titip padaku dan pada suamiku, beberapa tahun setelah cinta kami kau Ridlai ini.
Dn aku putuskan untuk tetap bertahan di sini, di keluarga Ridwa Gunawan. Sampai kpanpun itu, kecuali jika nanti mas Ridwan datang dan mengusiku. Maka aku akan pergi, tapi ku tidak yakin dengan itu. Karena sampai saat ini, hatiku berkata mas Ridwan tetap mencintaiku, juga pada anak-anak.
Aku menungumu, mas Ridwan. Suamiku... cepatlah kasih kabar dengan hatimu yang mencintaiku, dan kembalilah...

* green_library collection

Angka Bercinta

cinta berjumlah dua
jiwa bernilai satu
bertarung sengit
melagukan bahasa rindu
kau pemilik cinta
dan pencipta angka
bila angka ku hitung langka
maka nol ternilai tak ada
nol, satu 1\2 dinobatkan dengan suka
lalu mencari 100 sebagai angka tertinggi tuk di nilai ada
ada angka bercinta, dan dalam cinta kita menghitung angka
satu, itu nilai cintaku pada –Mu
sang penguasa rindu alam raya
pemilik lagu cinta yang selalu di rasa
oleh aku, hamba pengeja angka

Sepiring puisi

Bangunku siang hari
Ngantuk, semalam larut mata tak ditutup
Kira-kira jam sepuluh, bangunku
Sekolah sudah ditutup
Aku tak boleh masuk
Satpam seperti burung perkutut
Memandang ku
Aku jadi takut
Pulang saja aku
Biar ku buat alasan kegiatan belajar ditutup
Pada ibu atau yang lain
Biar tak ada marah
Dan luka memerah karna pukulan amarah.
Lalu tidurku akan diperpanjang, ideku
Nyatanya kabar mendahuluiku, pada ibu
Sampainya di pintu rumah, aku disambut
Terlontar sepiring puisi dari ibu,
”Pergi, buatku berwajah malu”
Aku terkejut
Lari ku jadi, berpuisi juga
”Aku tak sengaja ibu’
Tak bermaksud aku mencipta puisi itu,
Aku tak lapar
Jika ternyata sepiring puisi mu
Menjadikanku pergiku,
Dari sisimu
Sekali lagi aku tak bermaksud...

Hitamnya senja

Selagi aku ada
Senja milik kita
sekarang, atau bahkan selamanya
senja tercipta untuk kita
sebelum mentari bersenandung dengan sinarnya
senja milik kita
sebagai pewaris para kholifah sebelumnya
.............
Tak lama ku bersajak, sengat matahari terasa
Entah, tanpa pamit pada pewaris
Mentari sirna,
Tak lagi menjadi milik kita
Dalam sekejap, awan menjadi pengganti
Aku tak dapat berbuat apa
Terlalu redup mentari,
Jika iya, senja pun kan terikut hitamkan warna
Aku tak bisa berbuat apa,
Selain, menerima ikhlas hitamnya senja
Karna awan menjadi pemenang,
Sedang iya, menjadi warisan bagi yang lain
Bukan pada kita
Terima saja
Hitamnya senja
Kita tak bisa berbuat apa

AKU BUKAN SAHABAT MAYAMU

“Seindah panorama pagi aku menyapamu, bukan untuk apa. Tapi sekedar memastikan bahwa kamu masih ada” itulah sms pertama yang ku kirim tepat ke nomermu yang baru aku dapat dari Reyna, kawan kita. Tanpa kau tidak tahu bahwa Reyna telah memberikan nomermu padaku. Aku menunggu tanggapanmu atas sms yang ku kirim itu, ternyata tak sia-sia penantianku. Hand phone ku pun berdering… “ maaf anda siapa?” itu tanggapan darimu.
Hhm… aku menghela nafas panjang, tanpa diam lama aku langsung hubungi Reyna kembali untuk tidak memberi tahu mu, bahwa aku lah pemilik nomer yang tiba-tiba sms pada mu. Reyna pun mengiyakan setelah aku kasih beberapa alasan tentang rencanaku itu. Rencana tentang aku yang tak kan mengakui siapa sebenarnya diriku padamu, karna satu hal. Aku ingin mencoba menjadi orang lain untuk ada bersamamu. Karena dengan itu pula aku lebih leluasa menasehatimu, menanyakan kabarmu bahkan mencari tahu apa yang sebenarnya selama ini kau dari aku yang hanya merupakan sahabat lugu bagimu.. Karena jika aku akui siapa aku sebenarnya padamu tak ayal kau akan mengabaikan sapaku, kata-kataku bahkan nasehat-nasehat ku yang bagimu hanyalah sebagai sahabat lugu dalam majalah kita. Setelah rencanaku disepakati oleh Reyna, aku pun langsung membalas sms darimu.” Aku adalah orang yang sedang mencari seoarang teman …entahlah, kenapa pencarian itu tersasar padamu”
“ nomer ini anda dapat dari siapa?” tanyamu kembali di sms itu. Aku bingung harus jawab apa… tak sempat ku berpikir atas jawaban itu, hand phone ku kembali bergetar “ mbak Reyna yang memberikan nomer ini pada anda. Jadi yang jelas anda pastinya teman dia, berarti anda juga kenal aku kan?” sambungmu. Hah… tidak mungkin! Reyna tidak mungkin mengatakan semua itu. Bukankah dia sudah berjanji padaku untuk merahasiakan tentang ini? Untuk memastikan itu, aku kembali menghubungi Reyna lewat sms. “ bukankah kau telah sepakat untuk tidak memgatakan hal ini pada Vara, but, why you say to her?”. “ aku memang mengatakan ada yang meminta nomer dia dan aku kasih itu. Tapi sama sekali aku tidak mengatakan bahwa orang itu kamu Wan…” aku pun mulai tenang dengan jawaban yang Reyna kasih. “ ooo.. gitu. Ok! Thanks…ku harap, kau tetap akan merahasiakan semua ini darinya”. “ memangnya kenapa sih kamu ngotot banget untuk merahasiakan siapa dirimu pada Vara?” sms Reyna lagi. “ aku hanya ingni meyakinkan dia, bahwa dia tak seperti apa yang dia pikir. Yah, dia sama seperti yang lainnya bahkan dia lebih mampu. Sebagai teman, aku hanya ingin membuat dia percaya pada dirinya sendiri. Tak lebih dari itu tujuanku Reyna” singkat jawabku pada sms yang Reyna kirim. Hand phone kembali berdering, sms dari Reyna lagi. “ kenapa jika hanya ingin itu, kau tidak mengakui saja siapa dirimu. Tak ada masalah kan? Bukankah kau memang temannya?” “ jika aku mengaku bahwa aku Wanda, kata-kataku tak akan ada apa-apanya buat dia. Sudahlah, turuti saja pintaku ini, aku tak kan macam-macam kok ke dia”. “ sampai kapan sandiwaramu ini Wan?” sms Reyna lagi. “ hanya sampai di tanggal 18 september kok, setelah itu aku akan menghilang Rey…” .
Selesai smsan ku dengan Reyna, aku kembali menanggapi sms dari Vara yang ku tunda untuk ku jawab “ yah, aku memang kawan Reyna. tapi tak berarti dengan hal itu aku kenal kamu. Karena aku mengenal Reyna hanya karna di dunia tulisnya. Yups! Aku pun kenal dia dari sms saja. Kau tanyakan aku tahu kamu? Reyna yang cerita” . “ apa saja yang dia ceritakan?” smsnya kembali menyapaku. “ tentang kamu yang suka mengilustrasi kehidupan, kamu yang sempat punya hati pada seorang adam bernama Farzan dan banyak yang lain…” hah… sebenarnya Reyna tak pernah cerita hal itu padaku, jelas aku tahu semua itu, karna aku memang temanmu yang sempat tahu siapa dan apa yang terjadi padamu. Tiba-tiba sms dari Reyna masuk “ Wan, Vara tuh penasaran siapa dirimu, pemilik nomer triple 7. belum kasih tahu nama tah? Oya, tadi dia mau marah ke aku gara-gara kamu yang sempat bilang kalau aku yang telah menceritakan tentang nya padamu, awas lho… jangan macam-macam!”. Tak sempat aku membalas sms Reyna, sms dari Vara hadir lagi.” Katakanlah, siapa sebenarnya dirimu?”. “ aku Moh. Irwan, yang biasa dipanggil Irwan, dengan nama pena @ewan dan aku anak Pamekasan, Galis. Sudah cukupkah aku perkenalkan diriku untuk kau terima jadi sahabat mayamu. Yang mungkin bisa mencoba mengerti kamu meski tak kan ada waktu untuk mempertemukan kita?” jawabku dengan sambil tersenyum lucu atas lelucon ini. Semoga tak berakibat fatal, aku harap semua kan sesuai dengan tujuan awalku. Sebelum Vara kemabali sms, aku sms Reyna lagi. Sekedar untuk ngasih tahu nama samaranku. “ Moh. Irwan. Dengan panggilan Irwan, nama pena @ewan dan orang Pamekasan, Galis. Itulah pengakuan diriku pada Vara, jadi kalau dia nanya sesuatu ke kamu, jawab saja itu. Yang jelas iyakan saja setiap tanyanya tentang aku, thanks” ku akhiri disitu sms dengan Reyna.
Agh … tak terasa, rupanya hari telah sore. Aku rebahkan badanku ke kasur sekedar hilangkan rasa penat ini. Sambil istirahat, aku sms Vara lagi “ apa kau bisa ceriata siapa dirimu padaku?”. Beberapa detik kemudian hand phoneku berdering. Vara membalas “ aku tak bisa ceritakan itu padamu”. “ ok! Aku tahu kalau aku bukanlah siapa-siapa, tapi setidaknya sebagai sahabat mayamu yang sudah kau akui itu padaku… agar nanti aku bisa memahami siapa kamu. Tapi aku tak memaksa, karena aku tak suka itu”. Jawabku. “ buka begitu, tapi karna Va mang tidak tahu siapa Va itu. Baiklah, Vara katakan setahu Vara saja. Yang Va tahu, Va itu suka marah, nggak p-d dan Va nggak bisa seperti teman-teman yang lain, mereka hebat!”. Jelas Vara. “ dari mana kau tahu kalau mereka hebat Va? Apa karena mereka dapat prestasi? Bisa dikenal banyak orang?” tanyaku. “ karena aku rasa memang mereka hebat. Mereka bisa dalam segala hal. Sedang Vara tidak!”. “Kamu tahu kenapa mereka bisa di pandang hebat oleh orang lain? Tidak lain karena mereka telah melakukan apa yang ada pada diri mereka, mereka yakin dan percaya dengan apa yang mereka perbuat. Sedangkan kamu? Vara, seandainya kamu juga yakin dan percaya diri, maka kamu bisa seperti mereka bahkan lebih dari mereka. Cobalah belajar mengerti apa yang ada pada diri kamu sebenarnya, jangan selalu melihat apa yang ada pada orang lain, karena itu bisa membunuh dirimu Va. Perrcaylah, bahwa pada setiap orang itu memiliki keistimewaan, dan kamu punya keisatimewaan itu Va!”. “ aku butuh bimbingan untuk belajar hal itu” tangapan Vara atas sms ku tadi.
“ kamu punya Reyna, dia cukup dewasa untuk mengajarimu…”. “kurasa Reyna tak punya banyak waktu untukku, kenapa bukan kamu?”. “ karena aku rasa aku belum cukup dewasa untuk mengajari hal itu”. “ jadi kau tak mau?”. “ bukan tak mau, tapi kurasa dengan waktu 5 hari saja itu tak kan cukup sebentar lagi kau balik ke pesantren pun yang ku tahu aku hanyalah remaja yang suka pada kedewasaan jadi tak tentu orang yang suka pada kedewasaan itu adalah orang yang sudah dewasa, tak lain ia masih ingin belajar itu. Meski tak sedikit orang kata, bahwa orang dewasa itu hanya membingungkan. Oya, dengan sendirimu saja sudah bisa kok tuk belajar memahami, tanpa harus melibatkan orang lain, jadi jangan tergantung pada orang lain Va. Itu tak baik” ku akhiri smsku dengan Vara disitu.
Keesokan harinya tiba-tiba sms dari Reyna menyapaku “ jangan sampai ngebuat Vara bergantung pada hadirmu yang sesaat itu, kamu tahu dia kan?”. Aku sadari itu, bahwa Vara memang sangat sulit untuk memaafkan orang. Jadi aku takut jika dia tahu yang sebenarnya, malah nanti… tidak, aku harus cepat menghilang dari nya tanpa harus ngaku siapa aku.
Aku sms lagi tentang rencanaku itu pada Reyna “ yaudah Rey, aku gagalkan rencanaku sampai disini saja, tanpa harus aku akui siapalah aku. Biarlah dia mengenal Irwan, bukan Wanda yang selama ini menemani harinya di sms itu. Yah, anggap saja Irwan adalah sahabat maya baginya. Karena Rey, jika aku pergi atas nama Wanda, maka aku yakin ia akan mengabaikan segala nasehat yang Irwan katakan lalu tentang dirinya. Jadi jika nanti sudah tida balik ke pesantren tak usah kau tanggapi apa-apa jika ia menanyakan atau bercerita tentang Irwan”. “its, ok!” jawab Reyna singkat.
Aku kembali merangkai kata untuk sms ke Vara “ maafkan segala salahku, lebih baik aku pergi dari pada harus menyisakan kecewa suatu hari nanti”. “ kenapa tiba-tiba kau mau pergi; tak maukah kau untuk berkawan dengan ku lagi? Vara balik bertanya atas pernyataan yang ku kirim lewat sms barusan.
“ sudahlah, kau tak perlu tahu apa alasanku. Yang jelas, cukup ku ingin kau ingat bahwa kau tak beda dari mereka, kamu bisa seperti mereka bahkan lebih. Cobalah belajar untuk mengenali siapa dirimu sebenarnya, karena dengan itu kau akan terlihat hebat pula. Sama dengan pandanganmu pada mereka. Thanks, sudah menemani hari-hariku, tak usah kau sapa hariku lagi. Sudah cukup sapa kita yang hanya beberapa hari ini tuk dijakan alasan bahwa aku sempat menjadi sahabat mu meski maya”. “ jadi kau benar-benar kan pergi?” Vara kembali tanyakan itu padaku. Tapi cukuplah aku tak mau
menanggapinya lagi, aku tak mau semakin memberi harapan padanya. Cukup sampai disini saja, yang penting tujuanku sudah terlaksana. Bahwa aku ingin dia tahu dan sadar bahwa dia bisa menjadi orang yang hebat, sama seperti yang lain!
@#@

Maafkan aku Va, tak penah ada Irwan atas nama pena @ewan di dunia ini, dia maya. Yang ada hanyalah aku sahabat lugumu… maaf, jika aku lancang berkawan denganmu atas nama irwan. Karena jika aku mengakui siapa diriku, kau tak kan dengarkan kataku. Percayalah, kau bisa jadi yang terbaik bagi siapapun!!!

Sampai senja nanti kembali bersajak,
Aku pasti kembali kan wujud asalku, siapa aku pada dirimu,…